News
Terimakasih kepada yang telah mengirim file ke Melidapolban , tapi mohon maaf tidak semuanya dapat dimuat di Blog ini, karena pemuatan artikel untuk kali ini harus berhubungan dengan Pengukuran. Saturday, Juli 15 2006,24.00 am
Chatting
Visitor
Visitor No
 
 

Sunday, July 16, 2006
Alat Ukur Daya, Frekuensi, dan Faktor Daya
Budi Suhardjo NIM : 05311010

Wattmeter

Alat ukur watt tidak sering digunakan di laboratorium tetapi banyak digunakan untuk pengukuran energi listrik komersil. kalibrasi alat ukur watt – jam dilakukan pada kondisi beban penuh yang diizinkan, dan pada kondisi 10% dari beban yang diizinkan. Pada beban penuh, kalibrasi terdiri dari pengaturan posisi magnet – magnet permanent kecil agar alat ukur membaca dengan tepat. Pada beban – beban yang sangat ringan, komponen tegangan dari medan menghasilkan suatu torsi yang tidak berbanding langsung dengan beban.
Kompensasi diperoleh dengan menyisipkan sebuah kumparan pelindung atau pelat diatas sebagai kumparan tegangan dengan membuat alat ukur bekerja pada 10% beban yang diizinkan. Kalibrasi alat ukur pada kedua posisi ini biasanya menghasilkan pembacaan yang memuaskan untuk semua beban yang lainnya.
Pengukuran energi pada 3 fasa dilakukan oleh alat ukur watt – jam fasa banyak. Kumparan arus dan kumparan tegangan dihubungkan cara yang sama seperti wattmeter 3 fasa. Masing – masing fasa alat ukur – alat ukur watt – jam mempunyai rangkaian magnetic dan piringan tersendiri, tapi semua piringan dijumlahkan secara mekanis dan putaran total per menit dari poros sebanding dengan energi total 3 fasa yang dipakai.

Alat Ukur Faktor Daya

Factor daya adalah cosinus sudut fasa antara tegangan dan arus, dan pengkuran factor daya biasanya menyangkut penentuan sudut fasa. Ini ditunjukan dalam alat ukur factor daya kumparan bersilang ( crossed coil power factor meter ). pada dasarnya instrument ini adalah gerak elektro dynamometer dimana elemen berputar terdiri dari 2 kumparan yang dipasang pada poros yang sama tetapi tegak lurus satu sama lain. Kumparan putar berputar didalam medan magnetic yang dihasilkan oleh kumparan medan yang membawa arus jala – jala.
Kedua jenis alat ukurfaktor daya terbatas pada pengukuran frekuensi yang relative rendah dan khususnya digunakan pada frekuensi jala – jala ( 60 Hz ). Pengukuran fasa pada frekuensi – frekuensi yang lebih tinggi sering diteliti dan ini secara memuaskan akan dihasilkan oleh instrument – instrument elektornik atau teknik – teknik tertentu.

Alat Ukur Frekuensi

Frekuensi dapat ditentukan dalam berbagai cara tiada lain yaitu memanfaatkan efek frekuensi tehadap factor – factor seperti induktansi bersama, resonansi sircuit penyetelaan ( tuned sircuit ) dan resonansi mekanik. Dalam alat ukur frekuensi, kumparan – kumparan medan membentuk sebagian dari 2 rangkaian resonan yang terpisah. Kumparan medan satu adalah seri dengan inductor L1 dan kapasitor. Dan membentuk rangkaian resonan yang disetel kesuatu frekuensi sedikit dibawah skala terendah dari instrument. Kumparan medan dua adalah seri dengan inductor dua dan kapasitor dua dan membentuk sebuah rangkaian resonan yang disetel frekuensi sedikit lebih tinggi dari skala tertinggi instrument dalam hal ini frekuensi jala – jala, rangkaian harus disetel ke frekuensi berturut – turut 50 Hz dan 70 Hz, dengan 60 Hz pada pertengahan skala.
Alat ukur frekuensi ada dua jenis bentuk, pertama alat ukur frekuensi jenis batang atau lidah bergetar ( tuned – reed frekuensi meter ) bekerja berdasarkan prinsip resonansi mekanis, dan yang kedua alat ukur frekuensi tipe inti jenuh ( saturabel – core frekuensi meter) yang dapat menangani dan mengukur suatu rangkuman frekuensi dengan baik.
posted by Melida Polban @ 20:00  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 

Last Entries

Archieves
Links

Credite
 

Visit Me Klik It

 

15n41n1

Powered by Blogger

 

Untuk pemuatan artikel di Melida Polban,kirim file dlm Ms Word di attch ke email : melidapolban@gmail.com