News
Terimakasih kepada yang telah mengirim file ke Melidapolban , tapi mohon maaf tidak semuanya dapat dimuat di Blog ini, karena pemuatan artikel untuk kali ini harus berhubungan dengan Pengukuran. Saturday, Juli 15 2006,24.00 am
Chatting
Visitor
Visitor No
 
 

Sunday, July 16, 2006
Pengukuran Tahanan dengan Metode Rangkaian Pasif
M.Faruk NIM :05311023
Rangkaian jembatan dan rangkaian pembagi adalah diu teknik pasif yang sering digunakan untuk mengkondisikan sinyal. Meskipun bayak rangkaian aktif sering mengantikannya namun banyak aplikasi yang sering mengunakan rangkaian rangkaian ini.
1 Rangkaian Pembagi
Rangkaian pembagi dasar adalah seperti gambar di bawah ini. Dimana dapat digunakan untuk menghitung variasi resistansi menjadi variasi dari tegangan.
Dimana R1 maupun R2 dapat di ganti menjadi sensor.
Hal yang perlu di perhatikan:
  1. Variasi tegangan terhadap resistor adalah non linier

  2. Impedansi dari rangkaian ini adalah kombinasi pararel dari R1 maupun R2. ini kemungkinan tidak begitu besar maka efek pembebanan harus di perhatikan.

  3. Dalam rangkaian ini arus melewati kedua resistor maka energi akan dipakai oleh keduanya termasuk sensor.
2 Rangkaian Jembatan
Rangkaian jembatan di gunakan untuk mengubah variasi besarnya impedansi menjadi variasi tegangan. Salah satu keuntungannya adalah untuk meningkatkan level tegangan untuk meningkatkan sensititas dari impedansi.
Jembatan Wheatstone
Rangkaian yang paling sederhana dan yang paling sering di pakai adalah jembatan ini. Rangkaian ini di gunakan untuk pengolahan sinyal dimana sensor yang berdasarkan resistansi berubah dengan perubahan kondisi. Dalam pengunaan sekarang ini sering di gunakan alat ukur dengan input impedansi yang sangat besar.
Untuk analisa awal asumsi impedansi dari alat ukur sgt besar yang dapat di asumsikan sebagai open sirkuit.
Maka (V adalah perbedaan potensial antara titik a dan b maka (V = Va - Vb
Dimana Va = Potensial dari titik a
Vb = Potensial di titik b
Harga Va dan Vb dapat di cari bahwa Va adalah tegangan V dibagi antara R1 dan R2, demikian juga dengan Vb.
posted by Melida Polban @ 20:04   0 comments
Torsi dan Defleksi Galvanometer
Waldy M.P. 05311029
Sebuah kumparan (coil) kawat halus digantung di dalam medan magnet yang dihasilkan oleh sebuah magnet permanen. Menurut hukum dasar gaya elktro magnetic kumparan tersebut akan berputar di dalam medan magnet bila dialiri oleh arus listrik. Gantungan kumparan yang terbuat dari serabut halus berfungsi sebagai pembawa arus dari dan ke kumparan dan keelastisan serabut tersebut membangkitkan suatu torsi yang melawan perputaran kumparan. Kumparan akan terus berdefleksi sampai gaya elektromagnetiknya mengimbangi torsi mekani lawan dari gantungan. Dengan demikian penyimpangan kumparan merupakan ukuan bagi arus yang dibawa oleh kumparan tersebut. Sebuah cermin yang dipasang pada kumparan menyimpangkan seberkas cahaya dan menyebabkan sebuah bintik cahaya yabg telah diperkuat bergerak di atas skala pada suatu jarak dari instrument. Fek optiknya adalah sebuah jarum penunjuk yang panjang tetapi massanya nol.
Walaupun galvanometer suspensi bukan instrument yang praktis ataupun portable (mudah dipindahkan), prinsip-prinsip yang mengatur cara kerjanya diterapkan secara sama terhadap jenis yang lebih baru yakni mekanisme kumparan putar magnet permanen (PMMC, permanent magnet moving-coil mechanism).
Juga di sini terdapat sebuah kumparan, digantung di dalam medan magnet sebuah magnet permann berbentuk sepatu kuda. Kumparan digantug sedemikian sehingga ia dapat berputar bebas di dalam medan magnet. Bila arus mengalir di dalam kumparan torsi elektromagneik yang dibangkitkannya akan menyebabkan perputaran kumparan tersebut. Torsi ini diimbangi oleh torsi mekanis pegas-pegas pengatur yang diikat pada kumparan. Kesetimbangan torsi-torsi dan juga posisi sudut kumparan putar dinyatakan oleh jarum penunjuk terhadap referensi tertentu yang disebut skala.
Persamaan untuk pengembangan torsi yang diturunkan dari hukum dasar elektromagnetik adalah:
T = B x A x I x N
Dimana :
T = torsi dalam Newton-meter (N-)m
B = kerapatan fluks di dalam senjang udara (Wb/m2)
A = luas efektif kumparan (m2)
I = arus di dalam kumparan (Ampere)
N = jumlah lilitan kumparan putar
posted by Melida Polban @ 20:02   2 comments
Alat Ukur Daya, Frekuensi, dan Faktor Daya
Budi Suhardjo NIM : 05311010

Wattmeter

Alat ukur watt tidak sering digunakan di laboratorium tetapi banyak digunakan untuk pengukuran energi listrik komersil. kalibrasi alat ukur watt – jam dilakukan pada kondisi beban penuh yang diizinkan, dan pada kondisi 10% dari beban yang diizinkan. Pada beban penuh, kalibrasi terdiri dari pengaturan posisi magnet – magnet permanent kecil agar alat ukur membaca dengan tepat. Pada beban – beban yang sangat ringan, komponen tegangan dari medan menghasilkan suatu torsi yang tidak berbanding langsung dengan beban.
Kompensasi diperoleh dengan menyisipkan sebuah kumparan pelindung atau pelat diatas sebagai kumparan tegangan dengan membuat alat ukur bekerja pada 10% beban yang diizinkan. Kalibrasi alat ukur pada kedua posisi ini biasanya menghasilkan pembacaan yang memuaskan untuk semua beban yang lainnya.
Pengukuran energi pada 3 fasa dilakukan oleh alat ukur watt – jam fasa banyak. Kumparan arus dan kumparan tegangan dihubungkan cara yang sama seperti wattmeter 3 fasa. Masing – masing fasa alat ukur – alat ukur watt – jam mempunyai rangkaian magnetic dan piringan tersendiri, tapi semua piringan dijumlahkan secara mekanis dan putaran total per menit dari poros sebanding dengan energi total 3 fasa yang dipakai.

Alat Ukur Faktor Daya

Factor daya adalah cosinus sudut fasa antara tegangan dan arus, dan pengkuran factor daya biasanya menyangkut penentuan sudut fasa. Ini ditunjukan dalam alat ukur factor daya kumparan bersilang ( crossed coil power factor meter ). pada dasarnya instrument ini adalah gerak elektro dynamometer dimana elemen berputar terdiri dari 2 kumparan yang dipasang pada poros yang sama tetapi tegak lurus satu sama lain. Kumparan putar berputar didalam medan magnetic yang dihasilkan oleh kumparan medan yang membawa arus jala – jala.
Kedua jenis alat ukurfaktor daya terbatas pada pengukuran frekuensi yang relative rendah dan khususnya digunakan pada frekuensi jala – jala ( 60 Hz ). Pengukuran fasa pada frekuensi – frekuensi yang lebih tinggi sering diteliti dan ini secara memuaskan akan dihasilkan oleh instrument – instrument elektornik atau teknik – teknik tertentu.

Alat Ukur Frekuensi

Frekuensi dapat ditentukan dalam berbagai cara tiada lain yaitu memanfaatkan efek frekuensi tehadap factor – factor seperti induktansi bersama, resonansi sircuit penyetelaan ( tuned sircuit ) dan resonansi mekanik. Dalam alat ukur frekuensi, kumparan – kumparan medan membentuk sebagian dari 2 rangkaian resonan yang terpisah. Kumparan medan satu adalah seri dengan inductor L1 dan kapasitor. Dan membentuk rangkaian resonan yang disetel kesuatu frekuensi sedikit dibawah skala terendah dari instrument. Kumparan medan dua adalah seri dengan inductor dua dan kapasitor dua dan membentuk sebuah rangkaian resonan yang disetel frekuensi sedikit lebih tinggi dari skala tertinggi instrument dalam hal ini frekuensi jala – jala, rangkaian harus disetel ke frekuensi berturut – turut 50 Hz dan 70 Hz, dengan 60 Hz pada pertengahan skala.
Alat ukur frekuensi ada dua jenis bentuk, pertama alat ukur frekuensi jenis batang atau lidah bergetar ( tuned – reed frekuensi meter ) bekerja berdasarkan prinsip resonansi mekanis, dan yang kedua alat ukur frekuensi tipe inti jenuh ( saturabel – core frekuensi meter) yang dapat menangani dan mengukur suatu rangkuman frekuensi dengan baik.
posted by Melida Polban @ 20:00   0 comments

Last Entries

Archieves
Links

Credite
 

Visit Me Klik It

 

15n41n1

Powered by Blogger

 

Untuk pemuatan artikel di Melida Polban,kirim file dlm Ms Word di attch ke email : melidapolban@gmail.com